
Palembang (MANDUPA) —
Menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Di madrasah, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Pesan tersebut disampaikan Kepala MAN 2 Palembang, Yusri Erlini, dalam sosialisasi ekoteologi kepada warga madrasah, Senin (21/09/2026). Sosialisasi tersebut bersamaan dengan penandatanganan pakta integritas dan komitmen Bersama warga MAN 2 Palembang di ruang pertemuan MAN 2 Palembang. Ekoteologi diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi amanah untuk merawat ciptaan Allah SWT.
Dalam penyampaiannya, Yusri mengaitkan nilai-nilai ekoteologi dengan aktivitas sehari-hari maupun proses pembelajaran di kelas. Menurutnya, pendidikan tentang lingkungan tidak cukup hanya disampaikan sebagai teori, tetapi harus diwujudkan melalui kebiasaan dan tindakan nyata.
“Ekoteologi bukan hanya tentang berbicara mengenai lingkungan, tetapi bagaimana nilai-nilai agama kita hadir dalam perilaku sehari-hari. Menghemat air saat berwudu, membawa tumbler dari rumah, mengurangi sampah plastik, dan menjaga kebersihan merupakan bagian dari tanggung jawab kita dalam menjaga ciptaan Allah SWT,” ujar Yusri Erlini.
Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah penghematan penggunaan air saat berwudu. Meskipun air digunakan untuk kebutuhan ibadah, penggunaannya tetap perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan. Membuka keran secukupnya, menutup kembali setelah digunakan, serta memastikan tidak ada air yang terbuang menjadi langkah sederhana yang dapat diterapkan seluruh warga madrasah.
“Air adalah nikmat yang harus kita syukuri dan jaga. Jangan karena air tersedia, kemudian kita menggunakannya secara berlebihan. Justru melalui wudu kita dapat belajar tentang kedisiplinan, kecukupan, dan tidak berlebih-lebihan,” tambahnya.
Selain penghematan air, warga madrasah juga diajak membangun kebiasaan membawa tumbler atau botol minum dari rumah. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan sekali pakai sekaligus membantu mengurangi timbulan sampah plastik di lingkungan madrasah.
Yusri menegaskan bahwa kebiasaan kecil tersebut memiliki nilai pendidikan yang kuat bagi peserta didik.
“Anak-anak kita tidak hanya perlu diajarkan apa yang benar, tetapi juga dibiasakan untuk melakukannya. Ketika peserta didik terbiasa membawa tumbler, menghemat air, dan menjaga kebersihan, sebenarnya kita sedang membangun karakter mereka agar lebih peduli, bertanggung jawab, dan menghargai lingkungan,” jelasnya.
Nilai-nilai ekoteologi juga dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru dapat mengaitkan materi pembelajaran dengan persoalan lingkungan di sekitar peserta didik, mengajak mereka melakukan pengamatan, berdiskusi, membuat proyek sederhana, hingga mencari solusi terhadap persoalan lingkungan yang ditemukan di lingkungan madrasah.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan, bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki kesadaran spiritual.
Menurut Yusri, madrasah memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan tersebut karena pendidikan karakter tidak terbentuk secara instan.
“Kalau ingin lingkungan yang lebih baik, kita harus memulainya dari diri sendiri dan dari lingkungan terdekat. Madrasah adalah tempat yang tepat untuk menanamkan kebiasaan itu. Hal kecil yang dilakukan setiap hari akan menjadi budaya, dan budaya yang baik akan membentuk karakter peserta didik,” ungkapnya.
Melalui sosialisasi ekoteologi ini, MAN 2 Palembang berupaya menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya madrasah. Menghemat air, membawa tumbler, mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan kelas, serta merawat fasilitas madrasah merupakan bentuk nyata penerapan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi bagian dari amanah. Karena menjaga ciptaan Allah SWT dapat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan hari ini. (Humas Mandupa)




