
Humas, Mandupa.
Senin (4/5/2026), halaman MAN 2 Palembang berubah menjadi lautan jas madrasah yang gagah. Di bawah langit yang cerah, seluruh peserta didik berdiri tegap mengikuti apel pembukaan dengan satu napas tema : “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Suasana menjadi meriah saat puluhan balon diterbangkan ke udara, melambung tinggi menembus awan sebagai simbolis dilepaskannya cita-cita setinggi langit, sekaligus menandai dibukanya perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan penuh harapan.
Hardiknas di MAN 2 Palembang tahun ini terasa jauh lebih bermakna karena tidak hanya berhenti pada seremoni apel pagi. Tanpa membubarkan barisan, lapangan langsung disulap menjadi panggung sastra bagi 20 peserta lomba pembacaan puisi dari setiap kelas. Di bawah tatapan juri Titien dan Husniati, para peserta menumpahkan emosi melalui bait-bait kata. Keberadaan lomba ini menjadi nyawa tambahan yang membuat peringatan hari besar ini tidak sekadar rutinitas, melainkan ruang bagi siswa untuk menyuarakan isi hati tentang dunia pendidikan.
Ketegangan artistik sangat terasa saat para juri mulai memberikan penilaian objektif terhadap penampilan para penyair muda tersebut. Husniati, selaku salah satu juri, menekankan bahwa membaca puisi adalah tentang menyampaikan pesan melalui rasa dan teknik yang tepat.
“Puisi bukan sekadar deretan kata, melainkan tentang bagaimana kalian menghidupkan jiwa dari tulisan tersebut. Oleh karena itu, artikulasi yang jelas, ketepatan intonasi, dan penguasaan panggung menjadi kunci utama agar pesan dalam setiap baitnya sampai ke hati pendengar,” ungkapnya sebelum lomba dimulai.
Suasana kian memanas dan penuh tawa saat perlombaan berlanjut ke parade busana profesi yang diikuti oleh perwakilan kelas X dan XI. Lapangan madrasah seolah berubah menjadi etalase masa depan saat para siswa tampil dengan ide-ide kreatif yang luar biasa. Mulai dari gaya bersahaja seorang petani dan nelayan, kegigihan penjual pempek keliling, hingga wibawa para politisi dan abdi negara. Kreativitas tanpa batas ini menjadi bukti bahwa visi pendidikan bermutu benar-benar telah membebaskan imajinasi mereka untuk menjadi apa saja yang mereka impikan.
Di ujung lapangan, Maria Ulfa dan Eliza Natalia selaku juri pengamat tampak sibuk memberikan poin pada setiap penampilan yang melintas. Mereka menggarisbawahi bahwa aspek penilaian utama terletak pada keserasian penampilan dengan tema profesi serta kepercayaan diri saat menguasai panggung. Setiap kostum yang dikenakan bukan sekadar kain, melainkan representasi dari cita-cita luhur dan penghargaan terhadap setiap profesi yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa, sesuai dengan marwah pendidikan itu sendiri.
Keseruan rangkaian acara ini menjadi pelengkap sempurna dari harapan Iskandar selaku Kepala MAN 2 Palembang. Beliau berkeinginan agar Hardiknas tidak hanya diingat sebagai hari libur atau upacara belaka, melainkan sebuah momen yang membekas dalam sanubari setiap pelajar sebagai aktor utama dalam mengejar ilmu. (TJP MAS)




