
Humas, Mandupa.
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Roeang Suara Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) menggelar pelatihan “Field to Frame” di Aula Lantai 12, Rabu (17/12/2025). Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini secara khusus mengundang beberapa sekolah di Palembang yang memiliki minat jurnalistik, termasuk delegasi Team Journalistic Photography (TJP) MAN 2 Palembang yang mengirimkan Muflihah As Saidah, M. Daffa Al-Hafidz, Rifa Putri Kamilah, dan Khansa Arifah untuk mendalami dunia pers.
Materi pertama disampaikan oleh Fotografer Profesional Ghompok, Ahmad Rizky Prabu, yang menekankan pentingnya etika visual. Ia menegaskan bahwa foto jurnalistik tidak pernah netral karena selalu membawa misi kritik sosial dan kepentingan publik.
Sementara itu, narasumber kedua, Puwantoro dari Kompas TV, membedah nilai pemberitaan di tengah gempuran media sosial. Pada materi ini, ia menekankan bahwa meski informasi kini sangat cepat tersebar, jurnalisme tetap menjadi pilar utama untuk memverifikasi kebenaran agar informasi tidak sekadar menjadi kebisingan tanpa data.
Muflihah, salah satu delegasi MAN 2 Palembang, turut menanggapi pentingnya peran jurnalis di era digital saat ini. “Menurut saya pribadi, jurnalistik akan selalu dibutuhkan karena adanya kode etik yang menjadikannya tetap relevan. Informasi dari jurnalis profesional setidaknya memiliki dasar yang jelas, berbeda dengan konten viral di media sosial yang belum tentu beretika,” tekannya. Hal ini mempertegas bahwa keberadaan pers mahasiswa dan jurnalis muda sangat krusial sebagai penyaring informasi yang akurat bagi masyarakat.
Memasuki sesi siang setelah istirahat, pelatihan beralih ke aspek praktikal di mana seluruh peserta dibagi ke dalam enam kelompok. Mereka diterjunkan langsung untuk melakukan praktik lapangan, mulai dari teknik peliputan hingga pengambilan foto jurnalistik. Sesi ini bertujuan agar para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengasah insting jurnalis mereka dalam menangkap momen dan menyusun narasi berita yang faktual di lapangan.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi hasil karya dari masing-masing kelompok sebagai bentuk implementasi langsung dari materi yang diberikan para ahli. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu membawa perubahan positif di lingkungan sekolah melalui karya jurnalistik yang tak hanya ‘viral’, namun pastinya mengedepankan etika yang lebih berkualitas. (TJP MAS)







